BABAK I
Mamat terpekur sendirian di teras rumahnya, pendapat para pengamat politik, ekonomi, sampai pengamat tetek bengek di koran membuatnya gundah. Penagamat politik bilang, Indonesia sudah sangat tidak kondusif untuk ditanami investasi asing. Pengamat Ekonomi ngomong, Indonesia terancam bangkrut karena hutang luar negeri dan pengangguran yang makin membengkak. Pengamat tetek bengek bilang, harga tetek sudah naik sesuai harga susu yang menjulang. semua perkataan mereka gak ada yang meng-enakkan, kata Mamat membatin. Uuh..Mamat kemudian masuk kedalam dan menyetel televisi. Salah seorang pengamat militer berkata dalam wawancara di TV tersebut, “Indonesia terancam tidak mendapat pasokan peralatan tempur, karena kebijakan luar negerinya yang tidak mendukung pasar internasional, Kalau ini terjadi maka Indonesia akan menjadi negara yang rawan serangan dari luar”. Mamat mengubah saluran televisi, lagi ia mandapati komentar seorang pengamat pangan, pengamat itu bilang “Diperkirakan hingga dua puluh tahun kedepan, Indonesia masih belum mampu swasembada beras, jadi kita masih menggantungkan diri dari beras Vietnam!” Mamat benar-benar terpekur sekali lagi, hatinya begitu gamang. Begitu galau. “Tuhan… sudah demikian burukkan Indonesia?Kalau memang sudah tidak ada lagi yang dibanggakan dari negeri ini, lalu untuk apa kita hidup di bumi Indonesia?” kata Mamat lirih. ceita tambah seru nih